Saturday, January 16, 2010

"Senin-Kamis" Biar Jadi Artis

Budi Anduk dan Vega alias Ngatini adalah figur di layar televisi yang merangkak dari bawah untuk menjadi terkenal seperti sekarang. Sejak pertengahan tahun 2000-an, hampir setiap hari dua artis ini muncul di TV melalui acara ”Tawa Sutra” (ANTV) dan ”Empat Mata” (Trans7) . budi suwarna & yulia sapthiani

Budi Anduk (41 ), yang bernama asli Budi Prihatin, mengaku tidak sengaja masuk ke dunia hiburan tahun 1996 ketika masih luntang-lantung tak ada kerjaan. ”Suatu ketika saya main ke rumah Parto (anggota grup lawak Patrio) di Mampang. Kebetulan saya bertetangga,” katanya.

Mungkin karena kasihan, lanjut Budi, Parto mengajak dia membantu produksi acara lawak ”Ngelaba” (TPI). Budi mendapat peran sebagai penonton dengan bayaran sekitar Rp 5.000. Setelah sukses jadi penonton, dia naik pangkat menjadi koordinator penonton.

”Setiap hari saya ke sekolah-sekolah untuk mengajak murid dan guru jadi penonton Ngelaba. Paling tidak saya harus dapat 100-an orang,” kata Budi.

Pekerjaan yang berat dan menguras tenaga ini membuat Budi lecek dan berkeringat. ”Saya pun bawa handuk untuk mengelap. Nah, julukan anduk dari situ asalnya,” kata Budi.

Beda dengan Budi, Vega Darwanti (23) alias Ngatini mengikuti berbagai casting untuk jadi terkenal. Ceritanya dimulai tahun 2003 ketika masih sekolah di kelas III SMA.

”Saya sering jalan bersama teman-teman. Satu kali, ada yang menyuruh saya ikut casting. Jadi, saya rajin ikut casting. Apalagi, Mama juga mendukung,” kata Vega, yang lebih banyak mengikuti casting iklan di berbagai rumah produksi.

Ambisi jadi artis dan dapat uang banyak membuat Vega harus sering izin dari sekolah untuk casting, sampai-sampai dia pun diledek teman-temannya sebagai artis.

Namun, untuk lolos casting rupanya tak mudah. Vega sempat putus asa meski tahun 2004 pernah menjadi bintang iklan layanan masyarakat Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Vega lalu berhenti casting dan memilih main band bersama teman-temannya dari kafe ke kafe. ”Padahal, usaha saya diiringi sama doa, lho. Saya sampai puasa Senin-Kamis,” ujar calon ibu itu.

Sementara Vega sempat putus asa, Budi dengan sabar menjadi koordinator penonton selama 12 tahun. Budi mulai belajar melawak dan menulis naskah untuk Ngelaba. Sesekali dia dapat jatah peran sekelebatan di Ngelaba.

Tahun 2003 Budi mulai mendapat peran di acara lawak Lesehan dan Klinik 24 Jam (Global TV). Empat tahun kemudian, dia dapat tawaran main di Tawa Sutra (ANTV).

”Waktu itu saya bingung. Saya masih kerja untuk Patrio, tetapi saya juga ingin ada perubahan. Akhirnya dengan berat hati saya meninggalkan Patrio,” ujar Budi.

Bagi Vega, kesempatan jadi terkenal didapat ketika Trans7 menggelar casting menjadi pelayan untuk talkshow Empat Mata (2006). Acara yang dibawakan Tukul inilah yang membuat Vega dikenal publik. Dari peran seorang pelayan, status Vega berubah menjadi co-host.

”Mungkin karena saya suka membalas omongan Mas Tukul,” kata Vega yang mendapat nama Ngatini dari celetukan Tukul.

Dari perjalanan karier inilah Vega memahami perjuangan orang-orang seperti dirinya. ”Saya ingin mereka jangan dibedakan dari bintang TV karena kita tidak pernah tahu ke depannya mereka akan seperti apa,” kata Vega.

Belum ”digosipin”

Dunia TV juga membuat perubahan pada diri Elly Suhari (38) dan Marjuki (34). Meski tak seterkenal Budi dan Vega, perjalanan karier mereka juga bisa dibilang dari bawah.

Melalui suaranya, Marjuki yang beberapa kali gagal ikut casting sinetron pernah menjadi pengisi suara beberapa produk iklan di TV. Marjuki memang lebih mengincar jadi bintang iklan karena proses produksinya cepat, tetapi bisa menghasilkan uang banyak, minimal Rp 5 juta untuk satu iklan.

Sementara Elly—yang dikenal dengan nama Elly Sugigi—masuk dunia hiburan sebagai penonton bayaran di Ngelenong Nyok (Trans TV) tahun 2006. Karena tampangnya yang unik, Elly mendapat perhatian produser dan ditawari tampil sekilas di acara itu. ”Biasanya saya muncul sebentar untuk dikata-katain aja. Tetapi, senang juga,” ujar Elly.

Dari situ Elly mulai percaya diri untuk ikut audisi, seperti kuis dan game show. Elly pun pernah ditawari peran kecil di sinetron, FTV, dan film layar lebar.

Setelah masuk dunia hiburan, hidupnya berubah. Elly yang sebelumnya ibu rumah tangga dengan kantong cekak sekarang hidup mapan. Dia punya rumah, mobil, dan usaha agen penyalur penonton bayaran.

Penampilan pun dipermak. ”Dulu kulit saya gelap. Saya minder kalau dekat-dekat artis. Lalu, saya luluran seminggu sekali. Hasilnya seperti ini,” kata Elly sambil menunjukkan kulitnya yang terang.

Elly ke salon setidaknya tiga hari sekali. Rambutnya dicat warna coklat dan disambung agar lebih panjang. Dia juga sering nongkrong di coffee shop. ”Dulu, minum teh pahit saja sudah bagus,” kata dia.

Namun, Elly merasa belum menjadi artis. Mengapa? ”Saya belum pernah digosipin di infotainment,” ujar Elly. (ind)

sumber: kompas.com

No comments:

Post a Comment