Saturday, January 16, 2010

Drama di Balik Layar Televisi

Di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/1) kemarin, sekitar 2.000 remaja berdesak-desakan mengikuti audisi kontes nyanyi televisi ”Indonesian Idol”. Beberapa peserta sampai pingsan. Mereka semua ingin menjadi bintang televisi. Peserta sudah datang sejak pukul empat pagi dan sampai pukul sepuluh mereka terus berdatangan,” kata Wahyu Ramadhan dari Departemen Komunikasi Pemasaran RCTI, penyelenggara kontes tersebut.

Begitulah industri televisi di negeri ini menjanjikan impian gemerlap bagi siapa saja. Balita, ABG, hingga orang tua berbondong-bondong datang ke stasiun televisi berebut peran sambil berharap suatu ketika bisa jadi bintang besar. Perjuangan mereka tidak kalah dramatis dibandingkan dengan ”reality show”.

Banyak drama lain di balik layar televisi. Alkisah, suatu sore di Coffee Bean Trans Corp, seorang ibu tua mendatangi empat laki-laki yang sedang bercakap-cakap. Ibu itu bertanya, apakah dia bisa main di salah satu acara reality show Trans TV.

Belum dijawab, ibu berusia sekitar 60 tahun itu menangis tersedu-sedu. Lantas dia berkata, ”Bagaimana akting saya?”

Empat laki-laki itu hanya tersenyum melihat akting ibu tadi. Salah seorang kemudian berkata, ”Kami bukan orang Trans TV. Kalau mau ikut casting, cari orang Trans saja ya.”

Orang-orang seperti ibu itu mudah ditemukan di sejumlah stasiun televisi. Hampir setiap hari mereka mondar-mandir mencari kesempatan ikut casting berbagai program, mulai kuis, reality show, game show, hingga sinetron.

Mereka datang dari berbagai pelosok. Muhammad Tohirio (21), yang dipanggil Rio, datang dari Jepara, Jawa Tengah. Dia bermimpi menjadi bintang setelah lulus ke final salah satu ajang pemilihan model tahun 2008. Dari sana dia bergabung dengan sebuah manajemen model.

”Saya jadi model beberapa iklan dan jadi figuran di sinetron. Karena bayarannya tidak jelas, saya memilih keluar,” kata Rio yang sempat luntang-lantung karena kehabisan uang di Jakarta.

Rio tidak pulang ke Jepara, tetapi bergabung dengan kelompok penonton bayaran yang dikelola Elly Suharni. Dengan begitu, dia tetap memiliki akses informasi kegiatan casting. Dia akhirnya mendapat kesempatan casting hingga 3-4 kali per minggu.

Hasil tertinggi, dia main di iklan Coca Cola versi ”Berrr”. ”Kalau sinetron, saya paling baru jadicameo (tampil sekelebatan),” kata Rio yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

Perjuangan Ade Mulyadi (39) lebih panjang. Sejak tahun 2003, Ade pergi dari casting kecasting. Hasilnya belum terlalu menggembirakan. Dia pernah dapat peran tukang sayur di komedi situasi Bajaj Bajuri sebanyak lima scene dan bermain di iklan UKM sebagai tukang bakso. ”Itu yang paling membanggakan,” katanya.

Ade memilih menjadi figuran sambil menunggu datangnya peran. Tidak ada pekerjaan lain selain jadi figuran. Selasa siang Ade ikut pengambilan gambar acara Coffee Bean Show (CBS) di Trans TV sebagai figuran bersama 14 teman lain. Tugasnya hanya duduk di kursi kafe, tidak berdialog, dan tidak boleh melihat ke arah kamera.

Ade dan kawan-kawan sudah siap di Trans TV sejak pukul 11.00. Sekitar pukul 13.00, pengambilan gambar baru dimulai dan hingga pukul 15.00 belum juga selesai. Ade dan teman-teman harus mengenakan pakaian ala eksekutif muda: berkemeja rapi, bercelana katun, sepatu kulit, dan berdasi. Seorang temannya bahkan berjas meski tampak kusut dan kebesaran.

Untuk peran figuran eksekutif muda, Ade mendapat bayaran Rp 40.000 plus makan siang. Setelah dipotong ongkos pulang-pergi, sisanya tinggal Rp 24.000. ”Lumayan,” kata warga Pondok Gede, Bekasi, itu.

Agar rezeki lancar, Ade bergabung dengan 99 agen penyalur figuran. ”Hampir setiap hari ada saja shooting,” kata Ade yang siang itu beberapa kali menerima telepon tawaran sebagai figuran dari beberapa orang.

Dari pekerjaan ini Ade mendapat uang rata-rata Rp 50.000 per hari. Dia kadang mengajak istri dan anaknya menjadi figuran untuk menambah penghasilan keluarga.

Menunggu hoki

Orang-orang itu punya mimpi sama: menjadi bintang hiburan terkenal dan kaya raya. Buat mereka, menjadi penonton bayaran, figuran, atau main satu-dua scene di sinetron atau film adalah proses yang harus mereka lalui sebelum menjadi artis.

”Yang penting muncul di televisi dulu,” kata Ricky (20), Kamis (14/1) di studio Indonesia

Mereka berharap suatu ketika dilirik produser televisi, film, atau iklan. ”Anggap saja muncul di televisi, meski sebentar, sebagai investasi,” ujar Rio yang mengaku cukup dikenal di kampungnya setelah main di iklan Coca Cola.

Ade menambahkan, sejumlah artis, termasuk Tukul Arwana, juga harus melalui jalan berliku sebelum namanya dikenal. ”Kalau hokinya (keberuntungan) ada, terkenal tinggal tunggu waktu. Saya harap hoki jatuh ke tangan saya atau anak saya,” kata Ade yang di kampungnya sudah dianggap artis.

Industri televisi memang membuka peluang bagi siapa saja yang ingin mencicipi rezeki gemerlapnya dunia hiburan. Industri ini setiap hari membutuhkan ratusan penonton bayaran, sejumlah figuran, peserta kuis dan game show, pemain reality show dan sinetron, band, atau pembawa acara.

”Sebagian pengisi acara kebanyakan diperoleh lewat casting,” ujar Kepala Departemen Film dan Drama Trans TV Andrian Syahputra.

Di Trans, lanjutnya, hampir setiap hari ada casting. Casting besar-besaran digelar setiap Jumat dan diikuti puluhan hingga seratus calon artis. Data dari peserta yang lolos akan disimpan. ”Pokoknya kami stok dulu. Kalau ada acara baru, kami memakai mereka,” kata Andrian.

Trans, lanjutnya, telah membuktikan, acara yang berhasil tidak harus dimainkan bintang besar. ”Justru kami melahirkan bintang dari acara kami seperti Aming. Jadi, setiap orang punya peluang jadi bintang kalau berbakat,” kata Andrian.

sumber: kompas.com

No comments:

Post a Comment