Saturday, January 16, 2010

Dicari: Cantik, Tinggi, Putih

Dunia hiburan bagaikan lampu yang memesona laron-laron untuk datang mendekat. Salah satu ”laron” yang berkerumun di dunia hiburan ini adalah agen-agen penyalur figuran dan calon artis.

Belakangan, agen penyalur tersebut tidak hanya menyalurkan figuran untuk keperluan film dan sinetron, tetapi juga mengerahkan penonton bayaran.

Mereka yang mereguk untung dengan menjadi agen ini cukup banyak di Jakarta.

Elly Suharni atau dikenal dengan nama Elly Sugigi (38) mengaku setiap hari rata-rata menyalurkan 500 orang untuk menjadi penonton bayaran atau figuran di sinetron dan film. Saat sedang banyak acara di televisi, ia bahkan bisa menyalurkan hingga 1.000 penonton.

Rusmala Dewi (35), salah satu pemilik Dewi Roni Agency, juga mengaku bisa menyalurkan lebih dari 500 orang setiap kali ada pesanan. Selain mengerahkan anggotanya sendiri, Dewi juga bekerja sama dengan agensi lain agar bisa mengerahkan lebih banyak orang.

Dewi yang mendirikan usahanya tiga tahun lalu awalnya bergabung dengan sebuah rumah produksi. Ia melihat, setiap kali ada pengambilan gambar untuk sinetron, rumah produksi tadi selalu mencari figuran. ”Dari situ saya melihat peluang bisnis,” kata Dewi.

Siapa pun yang ingin muncul di depan kamera bisa bergabung dengan Dewi, syaratnya hanya mengirimkan foto. Umur berapa pun boleh bergabung. Di agensinya Dewi memiliki anggota yang sudah kakek-kakek hingga bayi. ”Kami memiliki anggota dari semua golongan umur untuk memenuhi kebutuhan,” kata Dewi.

Sementara Eni (35), yang menjadi koordinator lapangan tiga agensi sejak tahun 2006, tidak hanya mengklasifikasi anggotanya berdasarkan umur saja, tetapi juga berdasarkan tampang.

”Kami tahulah, dunia hiburan selalu butuh orang-orang yang cantik dan ganteng,” kata Eni.

Eni mengklasifikasi tampang calon dalam empat kelas. Kelas A untuk calon yang wajahnya cantik atau ganteng, tubuhnya tinggi, kulitnya putih. Kelas B untuk calon yang wajahnya biasa saja. Kelas C dan D untuk calon yang tampangnya dianggap kurang memuaskan. ”Untuk pemeran, biasanya dicari yang berwajah ganteng dan cantik meski aktingnya kurang bagus,” kata Eni yang pernah mendatangkan 200 orang untuk penonton konser.

Bebas

Dewi tidak mengikat anggota untuk hanya bekerja kepada dia. Dewi membolehkan anggota mencari pekerjaan dari agensi lain. Dewi juga bekerja sama dengan agensi lain bila harus mendatangkan banyak figuran. Mereka yang bergabung dengan agensi di Jakarta, kata Dewi, berasal dari sejumlah daerah.

Untuk figuran, biasanya rumah produksi membayar Dewi Rp 50.000-Rp 60.000. Kalau mendapat dialog, meski sedikit, tarifnya bisa naik menjadi sekitar Rp Rp 75.000. Sebelum diberikan kepada anggotanya, Dewi memotong sebagian honor tadi.

Dewi tidak menetapkan secara kaku persentase uang honor yang masuk ke kantongnya. Besarnya pemotongan dilakukan dengan kesepakatan. Ia menggambarkan, jika rumah produksi memberi honor Rp 50.000, ia hanya memotong Rp 10.000 dari para figuran. Namun, jika mendapat order besar, seperti untuk bintang iklan yang bayarannya bisa mencapai Rp 5 juta lebih, Dewi biasanya memotong 2,5 persen dari honor tadi.

Elly juga bisa mereguk untung dari orang-orang yang ingin tampil di depan kamera ini. Setiap bulan, ia bisa mendapat penghasilan sekitar Rp 50 juta per bulan. Setelah dipotong pengeluaran, Elly masih mengantongi Rp 35 juta per bulan. Pantas saja bila bisnis ini dilirik banyak ”laron”. (IND/BSW)

sumber: kompas.com

No comments:

Post a Comment