Senin, 18 Januari 2010 | 03:13 WIB
Jasar Al Zarqa, dekat kota Tel Aviv, adalah satu-satunya desa Palestina di wilayah negara Israel yang bertepi di Laut Mediterania. Hanya beberapa puluh meter dari desa tersebut adalah Desa Qaisara, tempat kelahiran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Namun, dua desa bertetangga itu ibarat dua negara yang penduduknya saling tidak mengenal dan bahkan bermusuhan. Di antara dua desa itu pun dibangun pagar pasir tinggi sehingga satu sama lain tidak saling melihat.
Kepala Desa Jasar Al Zarqa, Murad Ammash, mengungkapkan, Israel selalu berdalih bahwa pemisahan dua desa bertetangga dengan pagar pasir untuk mencegah pencurian dari warga Arab dan agar penduduk perumahan Yahudi tidak melihat perumahan Arab di desa tetangga sehingga harga rumah Yahudi tidak jatuh.
Menurut Ammash, pembangunan pagar itu hanya memperdalam keretakan dan memperluas konflik internal antara masyarakat Arab dan Yahudi di Israel. ”Bagaimana bisa meyakinkan anak-anak kami yang sudah dikepung dengan pagar itu tentang etika bertetangga yang baik dan hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat Yahudi,” ungkapnya.
Potret nasib Desa Jasar Al Zarqa itu adalah satu dari ratusan nasib desa atau perkampungan Palestina di wilayah negara Israel dan Tepi Barat yang sudah terkepung dengan pagar pasir atau tembok, bahkan kawat berduri atau baja.
Israel dari masa ke masa mengambil kebijakan memisahkan komunitas Arab dan Yahudi di kota-kota berpenduduk campuran dua etnis itu, seperti kota Ramleh dan Jaffa. Pagar pelindung di sepanjang perbatasannya dengan Mesir pun diperluas.
PM Benjamin Netanyahu awal Januari lalu mengumumkan akan membangun pagar tembok sepanjang 120 kilometer di perbatasan Israel-Mesir dengan biaya 400 juta dollar AS. Ia berdalih, tanpa dilindungi pagar, Israel akan dibanjiri imigran gelap dari Afrika melalui Mesir yang bisa mengancam keamanan.
Israel juga membangun pagar sepanjang perbatasan Jordania, Suriah, dan Lebanon. Sejak 2002 Israel membangun pula tembok pemisah sepanjang 510 kilometer di Tepi Barat dan kota Jerusalem Timur. Palestina menyebut tembok pemisah di Tepi Barat itu sebagai tembok apartheid.
Profesor ilmu politik pada Universitas Al Quds, Mahmud Muharib, mengatakan, komunitas Israel sudah menentukan pilihannya dengan memisahkan diri dari komunitas Arab sejak sepuluh tahun lalu melalui pembangunan pagar-pagar antarperkampungan, desa, dan negara.
Menurut Muharib, cara berpikir Israel adalah harus menyingkirkan atau mengepung warga Arab dengan pagar-pagar dan mengontrol pintu keluar masuk perkampungan atau desa Arab yang terkepung itu.
Ia mengatakan, warga Yahudi tidak senang melihat warga Arab atau hidup bertetangga dengan warga Arab di wilayah Israel. Karena itu, lanjut Muharib, warga Arab harus dikucilkan dengan pagar.
”Israel juga punya pandangan serupa dalam melihat negara- negara Arab tetangga seperti Mesir, Lebanon, Suriah dan Jordania,” kata Muharib.
Seorang kolumnis Israel pada harian terkemuka Israel,
Menurut dia, komunitas Yahudi sejak masa protektorat Inggris telah membangun pagar perlindungan dan
sumber: kompas.com
No comments:
Post a Comment