Setelah terjun pada tahun 2009, penjualan mobil kembali ngebut. Kinerja sektor ekspor otomotif pun tak dapat dipandang enteng. Pulihnya ekonomi global dan membaiknya permintaan domestik mengindikasikan adanya sinyal semakin baiknya bisnis otomotif.
Krisis global dan keuangan pada tahun 2008 cukup telak menurunkan angka penjualan mobil dunia, tak terkecuali Indonesia.
Tengok saja penjualan mobil domestik Indonesia yang terempas hingga 20 persen, dari 607.000 unit pada 2008 menjadi 486.000 unit pada 2009. Hal serupa terjadi di negara tetangga, seperti Thailand, yang penjualannya mengerut 10,8 persen, dan Malaysia turun 2 persen.
Anjloknya penjualan mobil Indonesia menurunkan rasio populasi penduduk terhadap penjualan mobil baru, yaitu 379 (2008) menjadi 477 (2009). Artinya terjadi penurunan kepemilikan mobil baru, dari satu mobil baru di antara 379 penduduk menjadi satu mobil baru di antara 477 penduduk. Rasio ini cenderung lebih rendah dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia, yaitu 122 dan 53, pada 2009.
Turunnya penjualan mobil terjadi di semua segmen, baik mobil penumpang maupun komersial. Di kelompok kendaraan penumpang, pertumbuhan penjualan di Indonesia turun dari 35,5 persen (2008) menjadi minus 15,4 persen (2009). Melemahnya daya beli konsumen menyebabkan mereka cenderung menunda pembelian mobil baru.
Kelompok mobil komersial adalah segmen mobil yang penjualannya paling merosot. Kondisi penjualan domestik Indonesia dan Thailand menjadi tolok ukur pasar kendaraan komersial di ASEAN.
Di Indonesia pada 2008, pabrikan mobil niaga mampu melego 178.000 unit, tetapi pada 2009 yang terjual hanya 123.000 unit (anjlok 30,9 persen). Di Thailand, penjualannya hanya 318.000 unit, atau tergerus 17,9 persen untuk periode sama.
Memasuki 2010, harapan membaiknya penjualan mobil kembali terbit. Indikasi positif ini terlihat dari naiknya tren pertumbuhan penjualan mobil sejak November 2009. Pada November 2009, mobil yang terjual mencapai 48.322 unit, (tumbuh 4,9 persen), pada bulan Januari 2010, jumlahnya naik hingga 52.707 unit (tumbuh 67 persen).
Seiring pulihnya ekonomi domestik serta global, dan daya beli konsumen yang terkerek naik, penjualan mobil domestik Indonesia tahun 2010 diprediksi kembali meroket.
Selain memasok permintaan mobil domestik, Indonesia juga menjadi basis produksi sejumlah pabrikan mobil. Hasil produksinya tidak hanya untuk pasar lokal, tetapi juga ekspor.
Di kawasan ASEAN, Indonesia bersama Thailand merupakan eksportir utama kendaraan penumpang (SITC kode 7812). Sedangkan untuk kendaraan barang (SITC kode 7821), dominasi masih dipegang Thailand.
Nilai ekspor mobil penumpang (2008) Thailand 5,2 miliar dollar AS, atau 0,8 persen dari total ekspor mobil penumpang seluruh negara di dunia. Nilai ekspor Indonesia ke dunia 1,2 miliar dollar AS, atau 0,2 persen dari total ekspor dunia.
Pertumbuhan ekspor kendaraan penumpang Thailand cenderung naik dari 31,9 persen pada 2007 menjadi 35,7 persen pada 2008. Sedangkan pertumbuhan ekspor Indonesia melambat dari 129,3 persen menjadi 47,1 persen pada kurun waktu yang sama.
Pasar utama ekspor mobil penumpang Indonesia mencakup kawasan Timur Tengah dan Asia. Dalam kurun lima tahun terakhir terjadi pergeseran akselerasi pertumbuhan permintaan dari Timur Tengah ke kawasan Asia.
Nilai permintaan dari Arab Saudi, dengan pangsa 21 persen dari total ekspor mobil Indonesia ke dunia, saat ini mencatat pelemahan pertumbuhan dari 191 persen (2005) menjadi 36,5 persen (2008). Sedangkan pertumbuhan ekspor ke Malaysia naik dari 43,5 persen menjadi 90,5 persen.
Fakta menarik terlihat dari nilai ekspor mobil penumpang Thailand ke dunia. Berdasarkan data terkini, Thailand adalah pemasok utama kendaraan penumpang di ASEAN, termasuk Indonesia. Bahkan, Indonesia merupakan pasar ekspor Thailand yang gemuk, dengan nilai 603,3 juta dollar AS tahun 2008, atau tumbuh hingga 46,4 persen.
Tidak hanya mobil, Indonesia juga mengekspor suku cadang dan penunjang kendaraan (SITC kode 7843), seperti produk badan mobil, suku cadang mesin, rem, dan aksesori mobil. Nilai ekspor suku cadang Indonesia 1,1 miliar dollar AS tahun 2008, sedangkan Thailand mencapai 4 miliar dollar AS. Meski demikian, pertumbuhan ekspor produk ini terbilang kencang, yaitu 1,5 persen tahun 2007 menjadi 18 persen pada 2008.
Prospek investasi cerah
Tingginya permintaan domestik dan prospek ekspor yang berkembang menjadi daya tarik utama investasi di Indonesia. Perbandingan arus bersih investasi langsung asing (net flow of foreign direct investment) ke negara-negara ASEAN menunjukkan bahwa tahun 2008, Indonesia bersama Myanmar dan Vietnam mencatat pertumbuhan yang positif. Investasi luar negeri di Indonesia tumbuh 14,3 persen, Myanmar 10 persen, dan Vietnam 19,4 persen.
Naiknya nilai investasi asing diikuti kenaikan nilai investasi di industri kendaraan dan aksesori kendaraan. Tahun 2008, nilai investasi asing di industri ini naik hingga 83,5 persen
Memang pada periode 2009 nilai investasi di industri kendaraan dan aksesori kendaraan cenderung turun. Periode Januari-November 2009, realisasi investasi asing langsung 525,5 juta dollar AS, tergerus hingga 24,6 persen dari tahun lalu. Hal yang sama terjadi pada realisasi investasi domestik senilai Rp 66 miliar, atau anjlok 78,9 persen, pada periode yang sama.
Minat asing dan domestik berinvestasi di sektor otomotif terganggu selama krisis terjadi karena ketatnya likuiditas dan sikap investor asing yang cenderung menunda ekspansi usahanya di luar negeri. Kondisi ini diprediksi cepat pulih mengingat peluang pasar yang menggiurkan dan disokong fundamental ekonomi Indonesia yang menjanjikan.
Dari analisis di atas terlihat kinerja industri otomotif nasional dapat diandalkan. Tentu saja, kebijakan dan aplikasi strategi yang jitu dari pemerintah diperlukan untuk menopang pengembangan investasi dan industri otomotif nasional.
Harapannya, Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk negara lain, tetapi juga menjadi eksportir mobil penumpang terbesar dengan daya saing lebih kuat. Dukungan perbaikan infrastruktur, tingkat bunga kredit investasi yang rendah, dan penciptaan stabilitas politik adalah syarat mutlak untuk menjaring lebih banyak investasi.
Handri Thiono Economist Danareksa Research Institute
sumber: kompas.com
No comments:
Post a Comment