Tak hanya data pertumbuhan ekonomi yang belakangan ini cukup melegakan. Melainkan, hampir seluruh indikator ekonomi lainnya pun demikian, seolah bergerak seiring seirama menuju ke satu arah yang kian jelas.
Data neraca pembayaran adalah salah satu yang paling ”mencengangkan”. Surplus akun semasa (current account) naik drastis dari 126 juta dollar AS pada 2008 menjadi 10,6 miliar dollar AS pada 2009. Dengan demikian, sudah kembali ke tingkat sebelum krisis.
Ekspor menjadi penopang utama dalam peningkatan surplus akun semasa. Sejak Juni tahun lalu, ekspor mencatat pertumbuhan positif dan ditutup pada bulan Desember dengan pertumbuhan (year-on-year) 48 persen.
Di tengah banyak desakan untuk meninjau, atau bahkan membatalkan Asean-China Free Trade Area (ACFTA), ekspor kita ke China justru naik dan impor kita dari China turun. Dengan demikian, defisit perdagangan nonmigas kita dengan China justru turun.
Hasil kajian kuantitatif oleh Danareksa Research Institute secara gamblang menunjukkan, kita akan lebih banyak memperoleh manfaat dengan mengikatkan diri di dalam ACFTA.
Kajian yang sama menunjukkan, cukup banyak sektor usaha yang bisa bersaing dan menembus pasar China.
Hiruk-pikuk opini di masyarakat, memang, tak selalu sejalan dengan kenyataan. Apalagi kalau ada distorsi dalam pembentukan opini tersebut.
Di sisi lalu lintas modal tak kalah menggembirakan. Di tengah krisis global yang masih menerpa hampir semua negara, Indonesia tetap disinggahi investor asing jangka panjang. Ini terlihat dari penanaman modal asing langsung yang masih tercatat positif 2,3 miliar dollar AS pada tahun 2009.
Adapun investasi portofolio mengalami lonjakan sangat tajam, dari 1,7 miliar dollar AS pada 2008 menjadi 10,1 miliar dollar AS pada 2009. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2009 arus investasi portofolio tidak berfluktuasi tajam, melainkan sebaliknya selalu naik dari waktu ke waktu.
Pada triwulan pertama 2009, investasi portofolio sebesar 1,8 miliar dollar AS, lalu pada triwulan kedua naik tipis menjadi 2,0 miliar dollar AS. Kenaikan tajam terjadi pada triwulan ketiga, yaitu 3,0 miliar dollar AS, dan keempat, yaitu 3,3 miliar dollar AS.
Dengan kinerja akun semasa dan lalu lintas modal seperti itu, neraca pembayaran pada tahun 2009 membukukan surplus sebesar 12,5 miliar dollar AS sehingga menggelembungkan cadangan devisa kita mendekati 70 miliar dollar AS.
Dengan topangan surplus neraca pembayaran, nilai tukar rupiah bisa stabil di kisaran Rp 9.250 sampai Rp 9.500 per dollar AS dalam beberapa bulan terakhir.
Perbaikan merembet pula ke sektor produksi. Pada triwulan keempat tahun 2009, seluruh subsektor industri manufaktur tumbuh positif. Hanya dua subsektor yang pertumbuhannya sangat rendah, yakni industri kayu dan hasil hutan serta industri pupuk, kimia, dan produk karet. Selebihnya mengalami pertumbuhan di atas 4 persen.
Akselerasi perbaikan sejumlah indikator ekonomi berlanjut memasuki tahun 2010. Tengok saja misalnya percepatan ekspor dengan pertumbuhan 59 persen pada bulan Januari. Penjualan kendaraan bermotor dan semen pun menunjukkan kecenderungan serupa.
Tak ketinggalan dengan arus wisatawan mancanegara. Pada tahun 2009, arus wisatawan mancanegara tumbuh positif 1,4 persen, sedangkan untuk bulan Januari 2010 tumbuh 4,2 persen.
Muncul pula makin banyak pertanda bahwa suku bunga kredit akan turun walau mungkin tak sebesar yang diharapkan oleh kalangan dunia usaha. Jika laju inflasi bisa dijaga di bawah 5 persen, kita bisa cukup optimistis suku bunga akan turun.
Bisa kita bayangkan bagaimana kalau kecenderungan yang sudah berlangsung hingga awal tahun ini terus berlanjut. Pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dari perkiraan hampir semua kalangan.
Lebih dari itu, pertumbuhan ekonomi yang bakal terjadi akan lebih merata, dengan sektor penghasil barang yang makin menggeliat.
Dampak positif selanjutnya ialah pada tambahan penyerapan tenaga kerja sehingga menurunkan angka pengangguran lebih cepat. Penguatan sektor penghasil barang (tradable) secara tak langsung juga menekan jumlah penduduk miskin.
Apakah perbaikan yang sudah nyata ini tiba-tiba akan berhenti akibat Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Bank Century telah menyelesaikan tugasnya dan DPR telah mengambil keputusan dengan kemenangan opsi C? Yaitu opsi, yang menyatakan, ”kebijakan bail out dan aliran dana diduga terdapat penyimpangan sehingga diserahkan kepada proses hukum”.
Mengapa harus terhenti? Bukankah opsi C mengamanatkan bahwa siapa pun yang diduga bersalah sebagaimana tercantum di dalam laporan Pansus harus diselesaikan secara hukum oleh penegak hukum?
Arena politik telah berakhir, setidaknya untuk sementara. Para wakil rakyat telah memutuskan bahwa ada masalah dalam proses bail out Bank Century. Tak ada keraguan atas keputusan itu.
Kini, giliran penegak hukum bekerja, menelusuri dengan lebih saksama kasus Bank Century, tak hanya sebatas proses bail out, tetapi juga serangkaian peristiwa dari pra-merger hingga aliran dana pasca-bail out.
Dengan kaidah hukum yang berlaku, yang terbukti bersalah harus dihukum seberat-beratnya, yang tak terbukti bersalah akan terbebas dari sangkaan dan tuduhan.
Semua pihak harus menerima putusan hukum dengan legawa. Celah-celah hukum yang sangat banyak sebagaimana terbukti dari debat berkepanjangan terhadap sejumlah persoalan di seputar skandal Century hendaknya segera diselesaikan dengan pembenahan aturan hukum dan kerangka kelembagaan.
DPR jangan selalu menunggu, ajukan segera berbagai RUU inisiatif DPR.
Kalau justru pemerintah menghambat, misalnya dengan melakukan intervensi atas proses hukum, DPR jangan sungkan-sungkan untuk segera mengajukan hak menyatakan pendapat.
Karena sistem pemerintahan kita presidensial, tunjukkan langsung telunjuk kepada Presiden, tak usah tektok ke mana-mana dulu.
Arah kepastian hukum seperti itu niscaya akan sejalan dengan harapan kita semua. Juga sejalan dengan kepentingan bisnis dan masyarakat luas. Maka, tak perlu muncul kesanksian bahwa akselerasi perbaikan ekonomi akan terhenti akibat putusan DPR pada minggu lalu.
sumber: kompas.com
No comments:
Post a Comment